Showing posts with label Cerita Daerah. Show all posts
Showing posts with label Cerita Daerah. Show all posts

Wednesday, April 2, 2014

Novel Pembangkit Idealisme "De Winst" By Afifah Afra



De Winst By Afifah Afra


Bagi kamu penyuka novel pembangkit idealisme, wajib membaca “De Winst” karya Afifah Afra. De Winst adalah kata dari bahasa Belanda yang berarti laba atau profit. Novel ini berlatar tahun 1900’an, dimana Indonesia masih menjadi jajahan Belanda. Tokoh utama dalam novel ini adalah pangeran dari keraton Surakarta, yang merupakan sarjana ekonomi Universiteit Leiden yang bernama RM Rangga Puruhita.

Kembalinya Rangga ke Hindia Belanda merupakan awal dari kisah ini. Yang kemudian jatuh cinta kepada wanita Belanda bermata biru, Everdine Kareen Spinoza. Namun, ternyata Rangga dijodohkan dengan saudara sepupunya, Rr. Sekar Prembayun. Novel ini bukan hanya berisi kisah percintaan yang menarik dan unik.

Tuesday, July 17, 2012

Aksara Jawa Di Sepanjang Jalan Solo



Kalau sedang berkunjung ke Solo, atau hanya sekedar melewati kota Solo saja tentu akan merasa sangat berbeda dari kota-kota yang lain di Jawa. Disepanjang jalan utama maupun jalan-jalan kecil bahkan di setiap gang sempit akan ditemukan plang yang berbeda dari daerah lain.

Masyarakat Solo hampir seluruhnya menggunakan bahasa Jawa di kehidupan sehari-hari seperti selayaknya di kota-kota Jawa lainnya.

Jika di daerah-daerah lain plang-plang jalan selalu bertuliskan dengan huruf alfabet. Maka akan berbeda halnya jika kita berada di kota Solo.

Plang Jalan Gunakan Aksara Jawa
Terjadi perubahan Joko Widodo menjabat sebagai walikota Solo. Memang Joko Widodo sekarang menjadi lebih dikenal masyarakat Indonesia khususnya Jakarta sejak mencalonkan diri menjadi Gubernur Jakarta.

Ketika menjadi walikota Solo, Joko Widodo menggalakkan kembali penggunaan bahasa Jawa di lingkungan masyarakat Solo yang sering menggunakan bahasa Indonesia di kehidupan sehari-hari.

Di Solo tempat-tempat umum, termasuk pada plang-plang nama jalan dan nama-nama instansi pemerintahan maupun swasta bertuliskan huruf-huruf Jawa (Aksara Jawa).


Sumber : Jengker.com



Sunday, April 1, 2012

KEDANA KEDINI

Dibalik kemegahan Istana Kerajaan Mataram. Disuatu desa terpencil di tengah hutan. Hiduplah sepasangan kakak dan adik yang selalu bersama. Dalam adat jawa sepasang saudara kembar sekandung kakak beradik di sebut Kedana-Kedini. Kakaknya bernama Hartono dan adiknya bernama Hartini.
Beranjak remaja Hartono dan Hartini berguru pada seorang kakek berilmu dan sakti. Dengan harapan memperoleh ngangsu kawruh ilmu guna kasentikan. Setiap hari mereka berlatih. Setiap hari mendapatkan hal yang baru. Setiap hari memperoleh ilmu dari kakek
Pada suatu hari, kakek meminta Hartono dan Hartini untuk makan siang bersama di tepi sungai. Permintaan kakek disambut gembira sepasang saudara kembar yang selalu bersama-sama itu. Selama makan siang tak sepatah katapun keluar dari mulut kakek. Raut wajah kakek pun tidak seperti biasanya. Hartini yang dari tadi memperhatikan kakek tidak pula mengeluarkan suara sedikit pun dari mulutnya. Hartono sangat menikmati ayam bakar di depannya dengan mentimun dan kemangi sebagai lalapan kesukaannya.
“Tumben kakek mengajak kita makan siang?” celoteh Hartono.
“Sudah lama kita belajar bersama. Kakek sudah menganggap kalian berdua seperti cucu-cucuk kakek sendiri”.