Tuesday, January 10, 2012

Perjalanan menuju Malang #OBLONGMERAHMUDA

Didalam kereta api ekonomi jurusan Bojonegoro-Surabaya. Aylla duduk berempat dalam satu jejer tempat duduk. Mas Arif, Aylla, Dedek, dan Om Praw. Untung aja orangnya kecil-kecil jadi bisa dipake duduk berempat. Kalau dibayangin sich pasti bakal males dan wegah. Tapi kalau sudah menjalani sich asyik-asyik aja. Banyak sekali para pedagang asongan yang hilir mudik menyusuri sepanjang lorong gerbong gereta api. Mereka beraneka ragam, ada yang berjualan camilan, beraneka ragam es, kopi panas, koran, kacang-kacangan, nasi, gorengan, dan masih banyak lagi, kalau tak sebutkan semua malah akan memenuhi postingan. Tak ketinggalan pula para pengamen jalanan pun ikut meramaikan kereta yang kami tumpangi saat itu. Lagu khas para pengamen pun dilantunkan seiring dengan bejalannya kereta menyusuri rel-rel tua sepanjang jalan.

Sampai di Stasiun Surabaya pukul 15.00, rombongan Blogger Bojonegoro langsung begegas meninggalkan stasiun pasar turi. Dengan menggunakan sebuah Angkutan Kota berwarna biru, kami menuju Ke Stasiun Semut. Suasan Pasar turi yang dipenuhi hilir mudik para pedagang dan pembeli memenuhi sepanjang jalan yang kami lalui. Huhft!! Macet... Ini benar-benar sesuatu yang sangat Ay benci. Kebetulan Ay duduk di dekat Pak Sopir, jadi Ay mendengar beliau menggerutu karena jalan macet. “Polisine iki lapo wae, ora ono opo-opo kok macet. Polosi saiki Cuma gelem ngurusi masalah sing ono duwite!” Kata Bapak Sopir. Ay mendengar kata-kata itu hanya tersenyum. Dari kata-kata Pak Sopir itu membuat Ay memikirkan sesuatu tentang Polisi dan Tugas-tugasnya. Bagaiman tugas polisi? Sudah dilaksanakan dengan sebaik-baiknya kah? Tugas polisi adalah untuk memberikan keamanan seluruh warga masyarakat. Kalau masyarakatnya masih merasa tidak aman. Apakah polisi bisa dikatakan sudah melaksanakan tugas-tugasnya dengan maksimal. Padahal di Indonesia punya banyak sekali anggota kepolisian. Tapi kenapa masih banyak kejahatan yang terjadi? Dimana Pak Polisi? Dimana kita harus mencari perlindungan? Dimana kita bisa merasa aman? Ini benar-benar kenyataan yang sangat memprihatinkan bagi bangsa Indonesia.
Sampai di stasiun Semut, udah ada mbak Vira yang nungguin kita sambil bawa tiket. Ternyata keberangkatan kereta yang akan kita tumpangi itu jam 16.00, sedangkan waktu masih tersisa setengah jam untuk istirahat dan Aylla pun bergegas menuju mushola yang sudah disediakan pihak stasiun. Yang paling tidak bisa ku lupakan adalah ketika Aylla harus ketemun dan duduk berdampingan dengan seorang kakek berusia 80th dan masih sangat terlihat segar dan bugar. Beliau ternyata sangat suka bepergian kesana kemari sendirian. Aku salut sama kakek yang mengaku bernama Kakek Mashudi, karena beliau masih terlihat sangat sehat dan bugar di usianya yang sudah sangat tua itu dan masih sanggup bepergian ke tempat-tempat yang jaraknya cukup jauh. Namun, dalam lubuk hatiku timbul sebuah pertanyaa. Kalau di usianya yang sudah renta itu beliau masih suka bepergian jauh. Bagaimana kalau suatu saat nanti dia mulai pikun dan sering lupa. Beliau bisa-bisa hilang tersesat tak tahu jalan pulang! Huhftt!! Dasar kakek-kakek, begitulah kalau punya suatu keinginan tak akan bisa dihalangi. Seperti kakek Aylla, sangat keras kepala dan suka menyusahkan orang lain.
Didalam perbincangan kami, beliau sempat bercerita tentang Islam Muhammadiyah dan Islam NU. Ternyata kedua golongan Islam tersebut hanya memiliki sedikit perbedaan dalam menentukan suatu hukum. Dan menceritakan sebuah partai yang pernah berdiri di Indonesia yaitu partai Masyumi. Kakek juga berpesan untuk melaksanakan sholat malam dan meninggalkan kebiasaan merokok. Kakek tua itu berasal dari Kudus, dari gaya bahasa yang dimiliki sama seperti Mbah Kakungku, yang sekarang ini tidak sesehat beliau. Hemmm!! Cerita tentang kakek diputus sampai disini saja. Kalau diceritakan lebih detail lagi akan sangat panjaaaaaaaaaaaaang.

No comments: