Showing posts with label Kelas Menulis. Show all posts
Showing posts with label Kelas Menulis. Show all posts

Wednesday, September 19, 2012

Kibaran Bendera Simbol Nasionalisme Turki


Masih ada hubungannya dengan postingan sebelumnya tentang Finding Rumi. Najmar merasakan nasionalisme orang turki lewat bendera. Sepanjang jalan kota Ankara bertebaran bendera merah dengan gambar bintang dan bulan sabit putih ditengahnya. Dipuncak-puncak gedung tertinggi berkibar gagah melambai-lambai bendera kebangsaan Turki.
Kalau di Indonesia, bisa ditemukan bendera-bendera merah putih bertebaran hanya pada saat perayaan tujuhbelas Agustus saja. Kalau hari-hari biasa yang dijumpai hanya bendera umbul-umbul iklan. Tentu saja ini

Negara Turki Cinta Bahasanya Sendiri


Turki, sebuah Negara Transcontinental karena wilayahnya berada di dua benua. Benua Asia dan Eropa. Laut Marmara merupakan bagian dari Turki digunakan untuk menandai batas wilayah Eropa dan Asia.
Membaca catatan perjalanan Najmar yang dirangkum dalam sebuah buku berjudul “FINDING RUMI” memberikan kesan tersendiri tentang Turki. Turki yang merupakan sebuah Negara Republik Konstitusional yang demokratis, sekuler, dan bersatu.

Turki beribukota di Ankara. Namun, Istanbul nampaknya lebih terkenal daripada Ankara. Letak Istanbul yang stategis di persilangan dua benua membuatnya lebih ramai. Najmar ketika di Turki merasa kesulitan berkomunikasi dengan penduduk setempat karena sangat jarang sekali yang bisa berbahasa Inggris. Jarang sekali tulisan-tulisan berbahasa Inggris ditemui di Ankara. Mungkin karena orang Turki lebih mencintai

Saturday, June 2, 2012

Lomba Menulis Esai Se Kabupaten Bojonegoro




Tema :


  1. Perpustakaan yang menginspirasiku
  2. Perpustakaan Umum sebagai ruang public
  3. Menghidupkan perpustakaan, Membangun komunitas
  4. Ibuku perpustakaan pertamaku
  5. Membaca mengubah kehidupan
  6. Mengembangkan budaya membaca dan menulis di kabupaten Bojonegoro

Sunday, May 27, 2012

Workshop Menulis Features Dan Fiksi Part 5


Meskipun Aku terlambat setengah jam, aku masih punya sedikit catatan yang bisa di share di blog buat teman-teman. Masih diselenggarakan di Sanggar Guna bersama Mas Annas. Workshop membahas tentang ESSAY
Menulis Essai dibutuhkan penulis yang ahli. Menulis feature digunakan untuk latihan menulis. Seorang jurnalis akan merasa puas setelah menyelesaikan tulisan features. Mas Anas mengibaratkan penulis adalah seorang koki dan bumbunya adalah data-data. Seorang koki mampu meracik bumbu yang pas untuk masakannya. Sedangkan seorang penulis bisa merangkai kata yang pas ketika menulis. Seorang koki hebat akan menghasilkan makanan yang hebat dengan rasa yang pas di lidah. Seperti halnya sebuah Essay. Essay adalah hasil tulisan dari seorang penulis hebat. Karena dengan rangkaian kata-katanya, pembaca bisa dihanyutkan dalam sebuah tulisan essay.

Saturday, May 26, 2012

WORKSHOP MENULIS FEATURE DAN FIKSI KE 4 “FEATURES”

Workshop menulis feature dan fiksi masih berlanjut sampai pertemuan yang ke 4. Pertemuan yang ke empat diadakan pada tanggal 26 Mei 2012 di Sanggar Guna Bojonegoro. Pukul 08.30 adalah waktu berkumpul para peserta workshop. Namun, molor sampai pukul 09.30. Beberapa peserta yang sudah berkumpul di depan sanggar guna duduk di sebuah gubuk yang sengaja di buat untuk pengunjung sanggar guna. Beberapa diantara kita sibuk membaca Koran Radar Bojonegoro dan Jawa Pos.

Sunday, May 13, 2012

Workshop Menulis Feature Dan Fiksi Ke Dua Bersama Mardi Luhung


Mentari bersinar begitu teriknya pada Minggu pagi 13 Mei 2012. Hari kedua dari Workshop menulis ini sangat special karena dihadirkan pemateri yang sangat terkenal akan puisi-puisinya. Seorang yang biasa dipanggil “H O” itu ternyata bernama “Mardi Luhung”. Nama yang tak asing untukku sebenarnya. Pernah disebutkan oleh Om Praw berkali-kali waktu kopdar Blogger Bojonegoro. Bahkan, sampul buku yang kemarin aku foto adalah buku karangannya. Sebuah buku berjudul “Ciuman Bibir Yang Kelabu”.  Baru ku sadari itu ketika aku mulai melihat-lihat file foto beberapa hari yang lalu.

Saturday, May 5, 2012

Pembukaan Workshop Menulis Features Dan Fiksi


Pembukaan workshop menulis diadakan di Rumah Baca Jl. Munginsidi Kampung Baru Gg. 01 Ds. Sukorejo Kab. Bojonegoro. Kata-kata pembukaan disampaikan oleh Mas Awe. Workshop Menulis features dan fiksi kali ini membahas tentang menulis features oleh Mas Nanang Fachrudin, seorang wartawan sindo dan sekaligus salah satu pendiri Rumah Baca Bojonegoro.
Dari kecil kita sudah diajari untuk membaca dan menulis atau biasanya disingkat tulmenul. Tahun 1700, penduduk Negara Jepang telah terbebas dari buta huruf. Sedangkan di Indonesia sampai sekarang masih banyak sekali orang yang belum bisa baca tulis. Meskipun dari TK anak-anak sudah banyak yang bisa membaca dan menulis tapi ternyata di Indonesia ini masih banyak yang buta huruf.

Wednesday, May 2, 2012

Nenek Penjual Buah

Pagi itu pukul setengah delapan pagi. Aku berada di dalam kamar dan sedang menghadapi sebuah cermin. Terdengar suara teriakan para wanita di luar. Aku tak terlalu menghiraukannya. Ketika aku dan mama melihat dari pintu. Kita sama-sama tersentak melihat seorang nenek tua yang tergeletak di jalan beraspal. Di sisi lain, seorang laki-laki setengah baya sedang memunguti gelas plastik yang berserakan di tanah. Di sekitarnya ibu-ibu yang sedang berkumpul untuk berbelanja di sibukkan dengan pemandangan yang sedang terjadi di atas jalan beraspal.
Sebelumnya ketika aku selesai mencuci motor, tepatnya pukul setengah 7 pagi. Aku menyempatkan diri menyapa nenek tua renta yang sedang berdiri dan nampaknya sedang menunggu seseorang.
“Nek, mau kemana?”
“Mengunggu, penjual sayuran disana nak, padahal belanjaannya sudah di taruh disana semua. Tapi penjualnya belum datang!” Jawab si Nenek sambil memandangi sayur-sayuran yang tergeletak di atas tanah di seberang jalan.
“Biasanya jam 7 penjual itu datang dari pasar nek.” Penjelasanku semakin sok tahu. Tapi memang benar kok, mungkin jam 7 lebih dikit.
Setengah jam kemudian terjdi tabrakan. Nampaknya, pelaku sekaligus korban pikirannya sedang panik. Yang lebih panik itu ya para ibu-ibu yang sedang berbelanja sayuran. Semua orang menyumbang ucapan. Entah itu berguna atau tidak, mungkin supaya mereka di kira perhatian. Aku hanya memandangi dari daun pintu. Sedangkan Mama berada di depan pintu. Ayahku sendiri, memandangi sambil memegangi motor butut berwarna ungu. Waktunya ayah pergi ke bengkel untuk berangkat kerja.
Kejadian tabrakan tidak terlihat oleh mataku. Yang ku lihat si nenek di papah tetenggaku dan diberinya dia minum seteguk air putih. Nenek itu memegangi kepalanya. Dari jauh tak terlihat luka di tubuhnya. Kata orang-orang, bapak si penabrak tidak mengendarai motor dengan laju kencang. Si Nenek yang tadinya mau nyebrang dan jadi korban tabrakan malah di salahkan semua orang.
Salah satu tetanggaku meneriakinya. “Sudah di bilangin, jangan keluyuran di jalan raya. Masih saja berkeliaran kesana kesini. Tuh, jadinya. Malah membuat susah semua orang saja.”
Mama yang mendengar triakan itu juga ikut-ikutan berteriak. “Dia itu berkeliaran kesana kesini untuk mencari makan. Orang itu butuh makan. Jadi usahanya untuk mendapatkan sesuap nasi dilakukan di sana sini. Kalau dia diam saja di rumah, mau kau kasih makan dia?”
Aku langsung masuk ke dalam kamar, memasukkan barang-barang dalam tas. Sebelum pergi, aku pamit semua orang di dalam rumah, Mama, Nenek, Kebetulan Kakekku sedang pergi entah kemana. Di perjalanan pulang aku masih saja memikirkan nenek itu.
Nenek itu adalah tetanggaku. Aku tak tau namanya. Dia sering kerumahku. Beradu mulut dengan mama. Hanya untuk mendapatkan seribu, dua ribu. Kadang aku iba melihat keadaan wanita setua itu harus masih tetap mencari sesuap nasi sendiri. Nenek itu sering menjual buah-buahan hasil dari kebunnya. Jambu biji dan sirsak yang paling sering. Tujuan utamanya adalah keluargaku. Kalau mama sering beradu mulut sama si nenek, itu sudah sangat biasa. Nenek itu sering menjual buah-buah yang belum layak konsumsi. Jambu-jambu masih mentah, sirsak yang belum cukup tua. Membuat Mama geram, dan sering ngomel-ngomel. Meskipun  tak jarang mama tetap membeli buahnya si Nenek. Kadang mengambil seluruhnya. Padalah tak satu buah yang bisa dimakan. Si nenek hanya mendapatkan uang dari penjualan itu paling banyak 3 ribu.

Wednesday, April 11, 2012

LETTER TO GOD


Nonton Film
Sepulang dari kantor Koperasi KSP Setya Bakti. Aku bergegas menuju sanggar guna. Tanpa menjemput Dedek. Ku kira Dedek pergi bersama Mas Djuna. Sesampainya di Sanggar Guna sudah ada Mas Doni bersama kawan-kawan. Ternyata Mas Djuna belum datang. Mungkin gak datang. Sudah lama dia tak menampakkan diri di Sanggar Guna.
Aku duduk disamping Mas Doni. Dia malah memberi pertanyaan padaku yang baru datang. “Dedek tidak kamu ampiri?”.
“Nggak. Tak kira udah ada disini sama Mas Djuna.”
Ini gara-gara habis ngelamar kerja tadi. Efeknya masih kebawa sampai ke Sanggar Guna. Tadi pagi Pukul 05:54:30 Mas Annas mengirimkan pesan singkat kepadaku, dan pastinya juga untuk semua teman-teman. Yang isinya begini ;
Kawan2 pagi ini kita nonton film ya, judulnya Surat Kecil untuk Tuhan…”

Sunday, April 1, 2012

KEDANA KEDINI

Dibalik kemegahan Istana Kerajaan Mataram. Disuatu desa terpencil di tengah hutan. Hiduplah sepasangan kakak dan adik yang selalu bersama. Dalam adat jawa sepasang saudara kembar sekandung kakak beradik di sebut Kedana-Kedini. Kakaknya bernama Hartono dan adiknya bernama Hartini.
Beranjak remaja Hartono dan Hartini berguru pada seorang kakek berilmu dan sakti. Dengan harapan memperoleh ngangsu kawruh ilmu guna kasentikan. Setiap hari mereka berlatih. Setiap hari mendapatkan hal yang baru. Setiap hari memperoleh ilmu dari kakek
Pada suatu hari, kakek meminta Hartono dan Hartini untuk makan siang bersama di tepi sungai. Permintaan kakek disambut gembira sepasang saudara kembar yang selalu bersama-sama itu. Selama makan siang tak sepatah katapun keluar dari mulut kakek. Raut wajah kakek pun tidak seperti biasanya. Hartini yang dari tadi memperhatikan kakek tidak pula mengeluarkan suara sedikit pun dari mulutnya. Hartono sangat menikmati ayam bakar di depannya dengan mentimun dan kemangi sebagai lalapan kesukaannya.
“Tumben kakek mengajak kita makan siang?” celoteh Hartono.
“Sudah lama kita belajar bersama. Kakek sudah menganggap kalian berdua seperti cucu-cucuk kakek sendiri”.

Saturday, March 31, 2012

Menulis Menyenangkan


Penjelasan Mas Nanang
Sekolah menulis yang diadakan oleh sindikat baca sungguh sangat menarik. Khsusunya untuk orang-orang yang memang sedang tertarik dengan dunia jurnalistik. Sekolah menulis rutin diadakan setiap hari Sabtu pukul 11.00 sampai pukul 14.00. Tempat pelaksanaanya di Jl. Munginsidi Gg.01 Kampung Baru Ds. Sukorejo. Mas Nanang selaku narasumber tetap bekerja sebagai wartawan Sindo di Surabaya. Setiap hari Sabtu menyisakan waktu liburannya untuk menjadi narasumber di sekolah menulis. Sangat menyenangkan ketika mas Nanang mau berbagi ilmu yang beliau miliki di bidang jurnalis.
Sekolah menulis sangat bermanfaat. Untuk mengembangkat bakat menulis, serta memperdalam pengetahuan di bidang jurnalis. Kita bisa saling berbagi tulisan. Berbagi pengalaman dalam menulis. Adanya kritik dan saran sangat membangun supaya tulisan kita lebih baik. Bagi yang baru belajar menulis, kadangkala kesulitan memilih kata-kata yang baik dan menarik.

Tuesday, March 27, 2012

Sehari Jadi Wartawan


Jalan Berbatu
Hari itu benar-benar sangat cerah. Aku pun memakai baju warna merah. Pukul 09.15 menit menuju sanggar guna. Sebenarnya ada sedikit keraguan yang mendera hatiku. 5 Minggu berturut-turut tak pernah aku kesana. Tak pernah aku mengikuti kelas menulis. Libur kuliah satu bulan membuatku tidak pernah berkunjung ke Bojonegoro. Hari itu aku benar-benar beruntung karena bisa mengikuti kelas menulis seperti sebelumnya. Aku kira aku akan terlambat. Pukul 09.20 masih sangat sepi, tidak seperti dulu. Hanya ku jumpai Mas Anas yang duduk di sebuah kursi panjang yang dicat warna putih. Aku pun menjabat tangan beliau. Sedikit member senyum padanya, dan dia pun membalas dengan senyuman.
Dulu aku sering datang terlambat sa’at kelas menulis. Terlambat setengah jam sampai satu jam pun pernah aku alami. Hari itu adalah pertama kalinya aku tidak terlambat. Semua yang datang disuruh berkumpul. Ku lihat pada jam dinding berbentuk bulat itu menunjukkan pukul 10 kurang 10 menit. Tapi kenapa hanya ada

Saturday, March 17, 2012

Gabung di Sekolah Menulis

Mas Nanang
Aku tidak pernah menyangka sama sekali kalau kedatanganku ke Rumah Baca kemarin bersama Rifa disambut hangat oleh Mas Awe. Sebenarnya hari ini aku memang sudah berencana ke Rumah Baca, tadinya mau kesana pagi, tapi karena aku mau menelpon seseorang jadinya menunda ke rumah baca sedikit agak siang. Nah ketika aku akan bersiap-siap berangkat. Rifa baru pulang sekolah, waktu menunjukkan pukul setengah dua belas siang. Aku pun mengajak Rifa untuk ikut ke Rumah Baca, dan dia pun mengambil baju di lemari. Tapi ketika dia sedang membuka lemari, dia mengurungkan niatnya untuk ikut bersamaku. Dia bilang mau ke permata bursalino untuk beli kado buat Nabila. Ketika aku sedang asyik berdandan di depan cermin, upss… HP ku berbunyi, ada pesan dari Mas Awe yang berisikan

Sunday, February 12, 2012

Kelas Menulis Kedatangan "Yonathan Rahardjo"

Om Praw Memperkenalkan Sebuah Buku
Jauh-jauh hari aku sudah berdoa dan berharap untuk bisa mengikuti Kelas Menulis di sanggar Guna bersama teman-teman Blogger Bojonegoro. Dan ternyata doaku terkabulkan. Rencanaya Aku dan keluarga pergi ke Surabaya ditunda Minggu depan. Asyiiiiiiiiiiiikkk!! Dan keinginanku untuk mengikuti kelas menulis hari ini bisa terpenuhi. Minggu lalu Aku tidak bisa ikut karena pergi ke Karanganyar bersama teman-teman STMIK Duta Bangsa Surakarta untuk mengikuti Outboand. Itu adalah pertama kalinya aku Absen di Kelas Menulis sejak aku aktif di acara yang dilaksanakan di Sanggar Guna itu.

Minggu ini berbeda dari biasanya lho, Aylla kali ini pergi bersama dengan seorang anak usia 9 tahun yang sangat cantik. Siapa lagi kalau bukan Rifa! Seperti biasanya, sebelum ke Sanggar Guna Aku selalu pergi menuju Option Net. Ketika Aku keluar dari rumah menuju Garasi untuk mengambil motor mio ku, HP ku bergetar dari dalam tas hitam yang ku cangklong. Sesegera mungkin Aku mengambil si HP mungil dan membuka sms yang barusan masuk. Ternyata sms itu datangnya dari Mas Djuna, menanyakan apakah Aku mau ikut kelas menulis atau tidak, karena sudah ditunggu di Option Net. Aku hanya membalas pesan itu

Monday, January 30, 2012

Mencari Inspirasi Di Kebun Belimbing #KelasMenulis

Belimbing Bojonegoro
Kelas Menulis kali ini diadakan disebuah tempat yang berbeda dari yang sebelumnya. Minggu, 29 Januari 2012 sekitar pukul 9 pagi para peserta kelas menulis telah berkumpul di sanggar guna untuk berangkat ke sebuah tempat yang tak jauh dari kota Bojonegoro. Ketika Aylla dan teman-teman dari Blogger Bojonegoro menuju ke Sanggar Guna, ternyata para peserta telah berangkat menggunakan mobil-mobil yang telah disediakan panitia. Dan ternyata mas Fadli dan Mbak Mytha masih berada di depan sanggar guna, mereka sengaja tertinggal karena anggota Blogger Bojonegoro belum pada datang. Akhirnya kita menyusul menggunakan sepeda motor. Aylla dibonceng Dedek, Mas Arif sama Mas Fadly, Mbak Lely sama Mas Didik, sedangkan Mbak Mytha sama temannya. Kita berangkat bersama-sama mengendarai sepeda motor menuju Desa Ringinrejo.

Sampai di Kebun Belimbing kita segera menuju ke salah satu kebun milik Bp.