Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Saturday, February 8, 2014

Karya Kelas Satu Dan Dua SD

Habibie Maullana adalah adik laki-laki kesayanganku yang lahir 22 Januari 2003. Pipi tembem, kulit item, dan cengeng. Gampang banget nangis! Nggak bisa ngerjain PR, nangis. Ditinggal Mama ke Pasar, Nangis. Salah pakai seragam sekolah, nangis. Buku ketinggalan dirumah, nangis. Pokoknya andalannya itu nangis, nangis dan nangis. Anak laki-laki satu-satunya dirumah yang lahir paling bontot tapi cengengnya minta ampun. Pemalu, dan kalau baru kenal. Susah banget di ajak ngomong. Beda banget kalau sama kakak-kakak perempuannya!!
Kakak Perempuan

Bibi Dan Angga
Menempel Gambar

Friday, December 7, 2012

Cerpen "Surat Buat Bunda 4"


Aylla memandang langit yang kelabu

Tak terasa kita telah memasuk di akhir tahun. Begitu banyak hal yang telah kita lalui. Tanpa kebersamaan. Beberapa bulan lagi aku pun sudah berkepala dua. Begitu cepat waktu berlalu. Begitu banyak coretan sejarah anak manusia tertulis. Cerita-cerita tak penting untuk diceritakan. Namun, ada pula cerita yang sangat penting dan harus selalu diabadikan menjadi bagian dari sejarah umat manusia. 

Bunda, bulan ini bulan Desember. Desember ke dua perpisahan kita. Desember. Taukah kamu Bun, lagu yang disenandungkan Yuni Sarah berjudul Desember Kelabu. Aku menyukai lagu itu. Entah kenapa, diawal bulan ini aku ikut menyenandungkan lagu itu berkali-kali di dalam kamar. Dengan suara yang sangat merdu alias merusak dunia. 

Angin dingin meniup mencekam di Bulan Desember
Air hujan turun deras dan kejam hati berdebar
Ku teringat bayang dan impian di malam itu
Malam yang kelabu
Kau ucapkan kata
Selamat tinggal sayang

Tuesday, November 6, 2012

Cerpen "Surat Buat Bunda 3"

Aylla bersama teman-teman SMK di depan wisata Sumber Semen Desa Tahunan Kecamatan Sale Kabupaten Rembang
Bunda yang manis, maafkan aku yang harus membatalkan rencana kita bertemu pada hari Senin ini. Ada sesuatu yang harus aku lakukan di Bojonegoro. Aku aja pulang kerumah cuma sehari, langsung balik lagi ke Bojonegoro. Mungkin lain waktu kita bisa bertemu dan berkumpul bersama Mamy. Setelah Mamy resent dari pekerjaannya, dia pulang dan berada dirumah untuk sementara waktu sampai mendapat pekerjaan yang baru. Begitupun juga kamu kan bun.

Bunda sayang, tentu kamu masih suka berenang seperti dulu kan. Kamu nggak bisa renang, tapi suka berendam di air kolam berlama-lama. Udah kayak ikan aja. Untung badanmu gak bau amis. Hehehehe… Dulu kita suka renang di Semen. Meski tempatnya nggak bagus. Tapi airnya segerrrr. Kamu tentu tahu Bun, kalau sekarang di Pasehan udah ada kolam renang baru. Aku sich belum pernah kesana, tapi adik-adikku kelihatannya sering. Kalau mau renang bayar 10ribu untuk hari biasa, dan 15ribu untuk hari libur. Mahal ya Bun. Padahal cuma kolam renang aja. Di Bojonegoro aja nggak sampai segitu. Hari biasa 5rb. Kalau hari libur 7rb. Nggak tahu tuh, kenapa di Pasehan mahal banget. Mungkin belum ada saingannya. Nanti kalau udah ada yang nyaingi, pasti langsung banting harga tuh.

Saturday, November 3, 2012

Cerpen "Surat Buat Bunda 2"

Putih Abu-Abu Aylla Dan Bunda Ayuk

Hae bunda. Malam Minggu gini aku hanya bisa sendirian di depan rumah sambil memandangi bintang yang tak juga muncul di awan hitam. Bun sayang, suratku yang tadi siang udah kamu baca kan? Gimana perasaanmu? Kamu boleh ketawa. Boleh menertawakan kekonyolanku ini. Bukankah kamu udah tau daridulu. Aku memang orangnya suka yang aneh-aneh. Aku gak suka kalau banyak yang suka. Aku menyukai sesuatu yang jarang disukai orang. Aku tidak suka sama. Aku suka berbeda. Karena yang berbeda itu yang akan diperhatikan. Menjadi pusat perhatian adalah kesukaanku. Meski kadang sebel juga sich. Kenapa orang-orang suka memperhatikanku. Bukan PeDe, atau sok artis. Tapi kamu tau sendiri kan gimana orang-orang kalau sama aku. Entah mereka iri, atau memang ngefans? Ah, aku nggak mau peduli sama orang-orang yang berisik di luar sana. Yang penting kita damai dan tentram ya bun.

Bun sayang, aku kangen sama kamu. Tapi, aku juga kangen berat sama Mamy ndut. Mamy yang dulu selalu berangkat dan pulang sekolah sama aku. Kalau nggak ada Mamy mungkin aku udah jadi mascot cowok-cowok yang suka telat berangkat sekolah. Kebaikan hati Mamy tak kan mampu tertulis dalam kata-kata. Setiap pagi Mamy dengan mionya selalu menungguku dandan yang super lama dan super berantakan. Mungkin dia mengeluh dalam hati. “Udah bonceng, tapi gak pernah tepat waktu.” Memang sich Mamy gak pernah ngeluh. Mungkin dia sungkan, dan merasa gak enak sama aku. “Maaf ya Mam, aku memang teman yang selalu menyusahkan.”

Oh iya bun, banyak teman kuliahku yang awalnya heran sama aku karena memanggilmu Bunda. Dikiranya Bunda itu Mamah. Padahal Bunda itu kan panggilan persahabatan buat sahabatku yang tercinta dan terkasih. Aku sering nelpon kamu karena kamu pakai operator yang sama denganku.Untung aja kamu udah putus sama si Tawar itu. Laki-laki yang dulu sangat kamu cintai tapi sejujurnya aku tak suka. Bukannya dia merebut perhatianmu dari ku. Bukannya dia mengambil seluruh rasa sayang yang kamu miliki buatku.  Tapi, dari awal aku sudah tau kalau dia tak pantas buatmu. Dia tak baik buatmu. Tapi, kamu mencintainya. Kalau orang jatuh cinta, yang selalu mereka katakan adalah  “Cinta mengalahkan segalanya”. Ya Bun, aku kalah dech kalau berdebat soal cinta. Aku gak pernah melarangmu, meskipun aku nggak suka. Tapi akan selalu ku katakan “Bunda, aku tak suka”. Terserah Bunda mau nurut sama aku atau nggak, yang penting aku udah mengatakan kalau aku nggak suka. Dan pada akhirnya kalian berpisah juga kan. Aku lega bun.

CERPEN "Surat Buat Bunda 1"

Aylla Dan Bunda Ayuk semasa kelas 2 SMK

Assalamu’alaikum wr.wb

Hallo Bunda, apa kabar? Semoga kabar baik selalu menyertaimu. Mama disini Alhamdulillah sehat dan baik. Bunda sayang, Mama kangen banget sama Bunda. Kira-kira, Bunda juga kangen nggak sich disana? Bun, sudah lama kita tak jumpa. Lama juga kita tak bersama-sama. Satu tahun lebih kita pisah. Aku kehilangan hadirmu Bun sayang. Gak ada yang meluk aku saat sedih. Gak ada yang menggandengku saat aku berjalan, gak ada lagi bahu tempatku bersandar.

Bun sayang, Mama kangen. Sangat kangen. Tiga tahun kita bersama-sama. Dalam suka, dalam duka, dalam sedih, dalam tawa, dalam bungah, dalam gundah, dalam tangis, dalam bahagia. Kamu selalu ada disisiku. Tiga tahun bukanlah waktu yang singkat untuk melukiskan sebuah kisah. Persahabat yang kita jalin di hari keempat setelah berkenalan. Kamu masih ingat waktu itu bun? Semoga saja masih. Karena kali ini aku telah mengingatkannya.

Pertama kali kita bertemu. Masih ingat waktu itu bun? Ingat donk! Kamu pernah bilang kalau aku adalah cewek paling cerewet diantara teman-teman yang lain. Wajah cantik dan imutku bahkan mampu menyita perhatianmu. Hehehehe… Bukannya terlalu PeDe. Tapi kamu sendiri yang pernah bilang. Kita ketemu pertama kali pada hari Minggu, ketika pra MOS. Kamu berangkat telat bun. Dengan menggunakan setelan baju ala cewek pondok pesantren. Apalagi dilengkapi dengan celak yang menghias matamu. Duh duhh… pas banget tuh. Pertama kali ngeliat kamu. Yang aku pikirkan adalah “Anak ini pasti lulusan pondok pesantren”. Dari cara berpenampilan sudah kelihatan banget.

Saturday, July 21, 2012

Tangisan Awal Ramadhan


Pada umumnya orang Islam di seluruh Indonesia melaksanakan ibadah puasa hari ini. Meskipun ada beberapa penganut aliran yang mendahului puasa. Aku sendiri tak ada persiapan apa-apa untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan tahun ini. Meskipun ditahun-tahun sebelumnya pun tak pernah ada persiapan apa-apa yang begitu berarti. Kalau waktunya puasa ya puasa aja.

Thursday, June 28, 2012

Bukan Cinta Pertama


Pertama kali pacaran kelas 3 MTs tahun 2007. Usiaku masih 15 tahun. Sebelumnya pernah menjalin hubungan dengan cowok kelas 2 SMA namun aku tak menganggapnya pacar mungkin hanya cinta monyet saja. Yang ku sebut-sebut sebagai pacar pertama adalah seorang cowok yang waktu itu duduk di kelas 3 SMA di salah satu SMK swasta di rembang. Rumahnya Kaliprak tetatangganya Aini, teman sekelasku. Seorang cowok yang berperawakan tidak terlalu tinggi itu ternyata masih punya hubungan saudara jauh dengan keluargaku.

Thursday, May 3, 2012

Rujak Buah

Rujak Buah

Sudah lama aku mendesak teman-temanku di kantor Jengker untuk rujak’an. Mereka hanya meng’iyani tapi tak pernah ada tanggapan yang berarti dari penghuni kantor itu. Pukul 12.30 aku pergi menjemput Dedek yang masih ayik tertidur di atas kasur yang sama sekali tidak layak disebut kasur. Menunggu Dedek mandi tidak terlalu lama. Tapi menunggu dia memperbaiki sedikit masalah diwarnetnya membuat aku sangat bosan. Berkali-kali lagunya Petra Sihombing, Cinta Takkan Kemana-mana mengalun dari HPku sedikit mengenang seseorang.
Jam 1 aku berangkat dari warnetnya Dedek. Mas Aziz mengirim sms padaku. “Jd rjkan gk, soale bntr lg ank2 mau ftsl”. Aku menyuruh Dedek untuk agak cepat. Sembari mengetik balasan sms dari Mas Aziz “Ya, tp kan yo blnja dlu.”
Sesampainya di kantornya Jengker aku ku ucapkan salam “Assalamu’alaikum…” Langsung duduk di kursi plastik warna hijau “Mas Agus mana?” Jawaban entah dari mana muncul “Itu lo dikamar habis mandi.”
Ada salah satu orang yang masuk ke kamarnya Mas Agus berteriak-teriak, “Huwaaaaaa… Agus nie pake bedak kayak anak cewek, tebel banget.” Sambil tertawa… diikuti yang lain
“Mau ngerempong bareng Anang ya??” Seluruh kantor langsung dipenuhi gelegar tawa penghuninya.
Keluarlah mas Agus dari kamar dengan senyum sumringah membuat kedua pipinya memerah. Seperti habis makan daging Babi. Huhft… Kata-kata itu ditujukan Mukhsin untukku kemarin. Katanya Pipiku keliatan memerah seperti orang Cina habis makan daging babi.
Aku langsung menarik kaos Hitam berkerah merah yang di belakangnya bertuliskan STMIK Duta Bangsa Surakarta. “Mas,,, ayo rujak’an.” Dengan nada memanja. Xixixixi…
“Ayo lo” sambil tersenyum padaku.
“Kita belanja dulu ya!” Pintaku dengan nada merayu..
“Ayo…”
Kunci motor ku serahkan pada Mas Agus. Segera kita pergi ke pasar buah yang letaknya tak jauh dari kantor Jengker. Hanya beberapa gang dari Kantor. Nampak penjual buah-buahan masih sangat ramai. Tentu saja! Karena memang pasar Banjarejo itu terkenal dengan sebutan Pasar buah di Kota Bojonegoro. Meskipun Giant menawarkan berbagai harga yang cukup miring untuk buah-buahan. Tapi para penjual di pasar itu enggan untuk beralih profesi.
Mas Agus mengajakku masuk ke dalam pasar. Masih menaiki motor dan kita mengelilingi pasar. Mas Agus berhenti dan menyuruhku membeli gula Getok (Gula Merah) di salah satu toko. “Mau beli berapa mas?” Tanya ku pada Mas Agus.
“Satu atau dua sudah cukup kok” sambil memaikan jari-jari tangannya.
“Mana cukup satu atau dua saja??” Berfikir sebentar dan langsung ke putuskan
“Gula Getok nya sepempat berapa bu?” dalam bahasa Jawa kromo Aku menanyakan harga pada ibu penjual
“tiga ribu lima ratus” Si ibu penjual juga menjawabnya dalam Jawa Kromo.
“Ya bu, seperempat kilo saja. Emm… kira-kira kurang gak ya??”
“Buat rujak’an ya Mbak?”
“Iya bu!”
“Kalau Cuma untuk rujak’an, ini sudah bisa untuk membuat 3 cobek sambal rujak.”
“Oh, ya sudah bu itu saja kalau begitu.”
Uang lima ribu keserahkan ke ibu, dan diberinya aku kembalian seribu dengan uang koin lima ratus warna putih.
“Sepertinya sudah tidak ada timun atau krai lagi mas. Penjualnya sudah pada bubar kok. Pasarnya juga sudah sepi kan?!”
“Ya seadanya saja lah.” Mas Agus menjawab dengan sangat santai.
Kembali ku lewati para penjual buah. Ku liat beranekaragam buah dijajakan di kios-kios yang berjejer di sepanjang jalan. Beraneka ragam Buah jeruk, apel, semangka, melon, duku, dan mataku tertuju pada tumpukan buah segar yang gayanya seperti “Ratu” tentunya sangat enak dibuat rujak.
“Mas beli nanas gimana??”
Mas Agus langsung memarkirkan motor. Langsung ku tanyakan harganya pada ibu penjualnya. “Ini berapa bu?”
Si ibu tanpa pikir panjang langsung menjawab “dua ribu mbak!”
“tiga, 5 ribu ya bu.” Si ibu malah menunjuk pada keranjang di sebelahnya
“Kalau ini seribu lima ratus mbak.” Aku langsung menghampiri keranjang yang di tunjukkan si ibu.
“empat, lima ribu ya bu.” Si ibu malah tersenyum dan member jawaban yang sudah bisa ku tebak sebelumnya
“Gak boleh mbakk.”
Mas Agus di dekatku bilang “Ini 2, dan itu 1 jadinya pas 5 ribu kan.” Sambil menunjuk keranjang-keranjang isi buah nanas yang berbeda-beda.
Lalu ku ambil sesuai perintah Mas Agus sambil memilih buah yang bagus dan agak besar dari yang lain. Uang 10rb ku serahkan pada si ibu. Dan uang 5 ribu bisa langsung ku terima dari si ibu.
Dijalan aku bilang sama mas Agus “haruse tadi ditawar mas!”
Mas Agus hanya diam saja. Ah dasar cowok! Pasti gitu dech. Gak suka nawar dan paling mudah di bohongi penjual. Seperti halnya ayahku kalau beli buah. Sering ayahku di beri harga mahal bahkan juga pernah dicampuri buah yang busuk. Penjual yang tidak jujur ataukah si pembeli yang terlalu mudah di bodohi? Keduanya sebenarnya beda tipis.
Selanjutnya beli buah bengkuang. Kali ini aku juga malas menawar. Satu ikat buah bengkuang berukuran tidak terlalu kecil berisi 10 buah dihargai 5 ribu rupiah. Itu memang harga wajar. Meskpipun aku sebenarnya bisa menawar menjadi 4 ribu lima ratus atau bahkan 4 ribu saja. Uang seribu, bahkan lima ratus dalam kegiatan berbelanja itu sangat berharga lho. Coba kamu kalikan 500 x berapa banyak toko yang kamu hampiri. Kalau ada 10 toko. Uang 500 itu bisa jadi 5000. Terkesan pelit sebenarnya. Tapi kalau masalah berbelanja itu sangat wajar di kalangan ibu-ibu yang biasa belanja. Jangankan 500 rupiah. 100 rupiah pun sangat berarti bagi para penjual maupun pembeli di pasar tradisional.
Sampai di rumah aku harus menunggu anak-anak pulang futsal dulu. Jam 2 sampai jam 4. Waktu yang cukup lama jika dilakukan untuk menunggu. Sangat membosankan sekali. Aku hadapi notebook merah milik Wahib, dan menonton acara Uya Kuya di TV.
Acaranya lucu banget! Menghipnotis satu kelompok sahabat. Dan ternyata mereka mengalami masalah cinta yang menyebabkan keretakan hubungan pada persahabatan mereka. Itu sering terjadi sebenarnya. Tapi jarang terungkap. Sebuah persabahatan akan hancur jika sudah dicampuri masalah asmara. Sangat benar sekali.
Jam 4 lebih orang-orang baru pada balik ke kantor. Aku bergegas untuk sholat ashar dulu. Selesai sholat langsung ku tarik Mas Agus dari kusrinya.
“Ayo buat rujak mass…”
“Ya, ayo donk. Ambil buahnya di depan.”
Semua bahan sudah ada di depan kita berdua. Mas Agus mengupas kulit bengkuang dan aku pun ikut membantunya. Dia tak suruh mengupas kulit buah sang ratu Nanas.
“Ini kalau kita Cuma berdua pegel mas, mengupas segini banyaknya.”
Aku mengengok di ruang tengah. Lalu berteriak “ssttt… sstt… ayo bantuin ngupas donk.”
Mas Aziz dan Wahib memandangi ku bersama-sama. Tapi yang datang menghampiriku adalah Wahib. Sambil mengatakan “Ada apa??”
“Ayo donk bantuin aku ngupasin buah-buahan ini.”
Bukannya langsung mengambil pisau malah langsung mencomot kupasan buah di piring..
“Eh, tanganmu kotor. Cuci tangan dulu sana! Ini lo cuci tangan di gayung.” Ku tunjukan gayung warna pink yang berisi air bersih untuk mencuci tangannya.
“Ayo bantuin ngupas donk!”
“ya ya” Jawaban yang sangat santai keluar dari mulutnya.
Sudah cukup banyak buah yang terkupas. Mas Agus mengambil segenggam cabai yang warnanya orange dan menaruhnya di cobek. Jumlah tidak sempat ku hitung, sepertinya ada 10 buah lebih. Hadehhh,,, banyak amat ya?
“Kok banyak amat cabe nya mas?? Aku gak pernah makan rujak dengan cabai sebanyak itu sebelumnya.”
Mas Agus siap mengulek campuran cabai dan gula merah di dalam cobek. Satu buah gula merah sudah lembut dalam ulekan tangan Mas Agus. Ditambahkan sedikit air matang di ulekannya.
“Aku gak mau kalau sambalnya encer! Tambahi lagi gulanya, pokoknya sampai sambalnya kental.” Ucapanku sambil teriak-teriak.
Aku, Mas Agus dan Wahib yang pertama-tama mencolekkan buah-buahan di sambal dalam cobek.
“Biarin aja mas, kita puas-puasin dulu ya.”
Pernyataanku disetujui dengan anggukan Mas Agus dan Wahib. Tiba-tiba Mas Lusiono dan Irul blak-blakan yang selesai mandi ikutan mencomot rujak.
“Aduh,,,pedesnya… kringatku pada keluar semua nich… huwahh… huwahhh…hah…hah…hah..”
“Oh yes … Oh yes” Mas Agus malah mengeluarkan suara yang aneh.
Keringat bercucuran di seluruh permukaan tubuh. Suara bibir kepedesan juga semakin menghebat.
“Huwahh… huwahhh… lidahku rasanya seperti terbakar.. hah.. hah…” Aku mulai mengeluh. Tapi tetap dalam perasaan yang pengen lagi.. dan pengen lagi. Pedes itu selalu bikin ketagihan!
Irisan buah nanasnya sudah habis. Dan orang-orang baru pada di panggili satu dan per satu berdatangan.
“Kok Cuma tinggal bengkuang sich?? Nanasnya Mana?” Semuanya heran kenapa tinggal bengkuang yang ada di piring. Aku hanya tersenyum merasa tak bersalah dan malah bilang.
“Itu lo dihabisin Anang!” Padahal dari tadi Anang tak ada bersama ku ketika membuat rujak. Meskipun hanya tinggal bengkoang. Orang-orang itu semangat sekali menghadapi sambal rujak yang dipenuhi biji cabe di cobek.
“Huwahhh… Hah… hah…”
Keringet bercucuran keluar dari seluruh penjuru kulit. Makin mantab nie rujak. Kecut kecut seger ya… Campur parfum alami. Xixixixixi…..

Sunday, April 1, 2012

KEDANA KEDINI

Dibalik kemegahan Istana Kerajaan Mataram. Disuatu desa terpencil di tengah hutan. Hiduplah sepasangan kakak dan adik yang selalu bersama. Dalam adat jawa sepasang saudara kembar sekandung kakak beradik di sebut Kedana-Kedini. Kakaknya bernama Hartono dan adiknya bernama Hartini.
Beranjak remaja Hartono dan Hartini berguru pada seorang kakek berilmu dan sakti. Dengan harapan memperoleh ngangsu kawruh ilmu guna kasentikan. Setiap hari mereka berlatih. Setiap hari mendapatkan hal yang baru. Setiap hari memperoleh ilmu dari kakek
Pada suatu hari, kakek meminta Hartono dan Hartini untuk makan siang bersama di tepi sungai. Permintaan kakek disambut gembira sepasang saudara kembar yang selalu bersama-sama itu. Selama makan siang tak sepatah katapun keluar dari mulut kakek. Raut wajah kakek pun tidak seperti biasanya. Hartini yang dari tadi memperhatikan kakek tidak pula mengeluarkan suara sedikit pun dari mulutnya. Hartono sangat menikmati ayam bakar di depannya dengan mentimun dan kemangi sebagai lalapan kesukaannya.
“Tumben kakek mengajak kita makan siang?” celoteh Hartono.
“Sudah lama kita belajar bersama. Kakek sudah menganggap kalian berdua seperti cucu-cucuk kakek sendiri”.