Wednesday, April 11, 2012

LAMARAN YANG DITOLAK


Pagi itu mentari mentari tak sedikitpun tersipu malu untuk memunculkan sinarnya. Aku terduduk di samping jendela kamar dengan menggengam sebuah buku. Buku yang tidak terlalu tebal. Berisi 535 halaman. Karya milik Pramoedya Ananta Toer. Halaman 268 mulai ku buka dan ku baca. Aku mulai terlarut dalam ceritanya.
Matahari makin meninggi. Aku tutup bacaanku. Bergegas mencari handuk biru mudaku. Lalu pergi ke kamar mandi untuk mandi. Berganti bajulah aku. Baju yang ku kenakan masih baju yang semalam tak pakai tidur.
Mbakku pun bangun dari mimpi indahnya. Lalu mandilah dia ditempat yang sama dengan tempat mandiku tadi. Dikamar dengan tembok warna merah muda, aku duduk di depan cermin besar. Ku tatap wajahku sendiri. Lalu ku oleskan pembersih wajah di seluruh permukaan wajah. Kapas putih bersih ku usapkan ke wajah yang bundar itu. Disusul oleh kapas baru berisi cairan penyegar.
Rifa mondar mandir di belakangku. Aku tak memperdulikan kehadirannya itu.
“Mbak cepet donk!” dengan nada agak berteriak.
“Iya bentar,” aku dengan santainya menjawab pertanyaan itu.
Ku oleskan bedak di pipi, lalu ke seluruh permukaan wajah kecuali bibir. Setelah bedak merata di wajah. Olesan pelembab bibir warna merah muda dengan rasa jeruk mendarat di bibirku.
Aku mencari-cari switter ungu. Tapi tak juga ku temukan. Tanpa ganti baju, aku gunakan jaket warna ungu yang tergantung di dalam lemari. Sedikit buru-buru mengganti celana pendek dengan celana jins panjang. Jilbab yang tergeletak di kursi langsung ku rebut dari tempatnya.
Berangkatlah aku mengantarkan Rifa ke kolam renang. Tak ku kenakan helm di kepala. Karena tempatnya dekat. Dan tak ada pos polisi yang kita lalui. Tujuan kita adalah kolam renang BWS, Bojonegoro Water Sport.
Sampai di BWS, Yola dan Papanya sudah menunggu disana. Terlihat pengunjung yang mulai ramai. Aku pernah mandi disana hanya sekali. Itu waktu ada adikku di Bojonegoro. Ketika Rifa turun dan membeli tiket. Aku putar motor dan langsung meninggalkannya sendiri.
Dirumah Mbak Rika sudah berdandan di depan cermin. Dia kalau dandan bisa berjam-jam. Kamar masih berantakan sisa tingkah polah semalam. Selimut yang tergeletak di atas kasur sudah siap untuk ku lipat. Bantal-bantal sudah tak sabar ingin di jejer-jejer bersama guling. Boneka-boneka itu juga ingin berkumpul dengan kawan-kawannya.
Ibuk sudah mempersiapkan nasi dan sambal tahu beserta tahu gorengnya. Mbak Ratih menaruh nasi dipiring untukku. Sedikit ku kembalikan lagi ke dalam Magic Com. Berlanjut dengan pengambilan tahu dan sendokan-sendokan sambal tahu memenuhi piring.
Selesai sarapan, Mbak Rika yang berganti sarapan. Aku mengganti baju kemeja warna ungu dengan renda-renda di dada. Itu milik mbak Rika. Lalu aku kenakan jilbab warna ungu agak tua yang menyerupai warna kemejaku. Tak ada celana kain yang bisa ku kenakan. Akhirnya celana jins warna hitam sebagai gantinya. Sepatu hadiah ulangtahun dari bunda tahun kemaren menghiasi kaki mungilku.
Aku dengan tas warna merah milik mbak Rika berjalan mengambil kontak motor mio. Sebelum berangkat, Mbak Rika meminta Mama memfotonya dengan Blackberry yang beru di belinya kemarin. Aku hanya memandanginya.
Kita bergegas berangkat. Mbak Rika ku bonceng. Sampailah kita di sebuah kantor yang tempatnya tak seperti kantor. Tidak berada di tepi jalan, malah di dalam gang. Ku jumpai 2 orang wanita yang sedang menghadapi tumpukan buku-buku. Pulpen di tangan masing-masing. Dan sebuah kalkulator di tiap meja. Tanganku menjabat tangan satu per satu dari mereka.
Mbak Rika duduk di mejanya sendiri. Hanya ada tas yang dibawanya dari rumah menghiasi mejanya. Aku duduk di depan mejanya Mbak Rika menghadap ke dua Mbak tadi. Mbak Rika hanya memainkan HPnya. Keluarlah suara dari mulutnya.
“Ya beginilah kerja kita, nulis dan ngitung.” Aku hanya senyum dan mengiyakan. Mbak Rika bertanya lagi padaku.
“Kenapa aku kalau FB di Komputer atau Laptop kok gak bisa? Padalah di BB sudah tak log out.”
“Coba buka lewat e-mail mbak!” Aku jawab sekenanya
“Lha e-mailku saja sudah lama gak tak buka. Mungkin sudah di blokir.”
Seorang Mbak yang agak gendut dengan baju marna merah memberikan pekerjaan pada Mbak Rika. Sepertinya Mbak Rika juga belum terlalu bisa melakukan rumus perhitungan yang baru diajarkan kemarin. Seorang Mbak berjilbab dengan baju warna hijau muda menuntun mbak Rika untuk mengerjakannya. Mbak itu juga bernama Rika.
Pukul 08.15 bapak-bapak mulai berdatangan memenuhi kantor. 15 menit kemudia bapak-bapak itu berhambur keluar lagi. Mbak Rika mengajakku menemui Bosnya. Aku sambil tersenyum dan duduk di depan kepala kantor tersebut. Mbak Rika duduk disampingku.
Aku sodorkan sebuah amplop coklat besar yang isinya surat lamaran pekerjaan beserta syarat-syaratnya. Laki-laki setangah baya itu berkata,
“Rumahnya mana mbak?”
“Desa Sale, kabupaten Rembang. Di Bojonegoro ngekost.” Jawabku
“Loh, kok kelahiran Tuban?”
“Iya soalnya rumah saya itu di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Dan saya lahir saya itu di wilayah Tuban. Makanya aktenya dibuat Tuban.”
“Ini sebenarnya sambil kuliah pak. Jadi bisa tidak kalau diberikan waktu?” mbak Rika mulai mengeluarkan suara emasnya itu.
“Memangnya kuliahnya jam berapa?”
“Jam 9 pagi pak” Jawabku cepat.
Bapak-bapak itu membolak-balik berkasku. Lalu dia memberikan jawaban dengan segera.
“Owh, kalau jam segitu tidak bisa Mbak. Soalnya disini pada jam-jam seperti itu adalah jam kerja produktif. Dan malah sangat dibutuhkan pada jam jam segitu. Jadi, maaf tidak bisa mbak.”
“ya tidak apa-apa kok pak” sambil mengangguk-angguk.
“Emm… Pak kalau untuk training di Kertosono orang tua tidak tega membiarkan saya sendirian pak. Jadi apa masih bisa ditawar? Kalau hanya di Babat sich saya tidak keberatan. Tapi kalau sudah ke Kertosono itu nanti susah Pak.” Mbak Rika mengutarakan isi hatinya pada orang yang baru sehari jadi Bosnya itu.
“Iya, kalau masalah itu nanti bisa dibicarakan lebih lanjut. Nanti saya usahakan bisa ditawar.”
“Oh, ya sudah pak. Itu saja.”
Aku menyalami bapak itu lalu pergi meninggalkan mejanya. Menuju ke ruangannya mbak-mbak yang daritadi duduk di kursinya masing-masing. Ku beri mereka senyuman. Ku jabat satu per satu tangan mereka. Lalu ku tinggalkan mereka semua diruangannya.

No comments: