Friday, May 4, 2012

Perpustakaan Bukan Kuburan


Library
Sebenarnya aku tak pernah menyangka bisa berjumpa lagi dengan seorang wanita yang sungguh luar biasa. Namanya Mbak Sekar. Dulu aku pernah ketemu ketika ada acara diskusi perpustakaan kota seluruh wilayah Bojonegoro di MCM.
Malam ini aku bersama Rifa pergi ke Rumah Baca untuk membantu persiapan acara Workshop Menulis Feature Dan Fiksi yang akan di mulai besok pagi jam 9. Mempersiapkan Id card, buku-buku, pulpen, map, sedangkan Mas Tohir masih didepan laptop dengan desain gambar untuk baner besok. 
Aku ikut berkumpul yang lain di ruang utama bersama ratusan buku yang berjejer-jejer di atas rak. Tiba-tiba Mbak Sekar menegur Awe.
“Eh.. kamu gak liat tuh ada anak kecil? Merokok kok di depan anak kecil! ” dengan nada menyindir tapi blak-blakan.
Spontan Awe langsung melemparkan putung rokok yang masih panjang keluar rumah. Nyala api rokok itu langsung padam seketika karena aspal itu masih basah terkena air hujan satu jam yang lalu.
“Oh, ya ada anak kecil ya?! Aku lupa!!” Sambil masang tampang merasa tidak bersalah. Tiba-tiba Awe memperkenalkan aku di depan Mbak Sekar. Mungkin Mbak Sekar sudah lupa kalau kita sudah pernah ketemu sebelumnya.
“Ini anak IT mbak!” Mata Awe yang dengan sengaja menatapku sambil tersenyum.
“Ayahnya Mbak Sekar kan orang IT juga toh! Jadi kamu bisa Sharing sama Mbak Sekar Ay” Ucapan Awe masih saja di sertai senyuman.
“Iya, itu kan ayah, saya sendiri tidak tahu, oh bukannya tidak tahu. Tapi tidak terlalu mengerti tentang dunia IT.” Jawab mbak Sekar.
“Oh gitu!” tanggapan Awe sama sekali tidak berbobot. Ringan seperti kapas bertebaran kesana-kesini.
“Kalau saya suka sharing sama ayah kalau sedang bermasalah dengan dunia IT. Jadi kalau ada masalah, pasti langsung tak lemparkan ke ayah saya.” Tambah Mbak Sekar.
“Kalau saya sendiri, kalau bermasalah dengan motor pasti tak lempar ke ayah”
“Apa? Ayah mau mbuk lempar motor? Hebat donk! Kayak Herkules ya Ay, ayahmu itu?” Celetus Awe membuat ruangan penuh gelegar tawa.
Mbak Sekar tinggal di Bojonegoro hanya sampai bulan Juni. Jadi setelah itu dia kembali ke Jakarta lagi. Malam ini Mbak Sekar banyak bercerita tentang Perpustakaan yang di kelolanya. Dia bilang “Perpustakaan itu bukan kuburan!”
Aku langsung tersentak mendengar pernyataan dari mbak Sekar. Lalu dia memberi penjelasan lebih lanjut untuk pernyataanya itu.
“Perpustakaan identik dengan suasana sepi dan sunyi. Bahkan hampir mirip seperti kuburan. Di perpustakaan yang saya kelola, semua orang boleh berbicara. Semua di bebaskan dilakukan di perpustakaan. Yang tidak boleh adalah telanjang bulat di perpustakaan. Tapi, kalau pun dia mau telanjang juga silahkan saja.” Hanya orang gila yang mau telanjang di perpustakaan. Bahkan anak kecil sekalipun tetap mengenakan pakaian ketika berada di perpustakaan. Ibunya takut kalau anaknya masuk angin. Mbak Sekar semakin banyak bicara.
“Kalau dulu perpustakaan di buat bersekat-sekat. Satu sama lain tidak bisa melihat apa yang sedang dibaca oleh temannya. Kalau sekarang, sama sekali tak ada sekat yang memisahkan para pengunjung perpustakaan. Interaksi dengan pengguna lain. Sesama pembaca bisa diskusi tentang buku yang dibacanya. Sekarang, perpustakaan memang digunakan sebagai ajang diskusi masyarakat.”
Apa yang dikatakan memang benar, meskipun ada sedikit yang tidak aku setujui. Memang sekarang perpustakaan semakin ramai saja. Contohnya Rumah Baca Bojonegoro, banyak kegiatan yang dilaksanakan disana. Diskusi buki, diskusi masalah-masalah filsafat, ekonomi, politik, budaya, dan masih banyak topik yang dibicarakan. Arisan buku sudah rutin dilaksanakan sebulan sekali. Meskipun  selama aku gabung di Sindikat Baca aku belum pernah mengikuti arisan buku karena keterbatasan waktu. Yang sering dan rutin ku ikuti adalah bengkel menulis setiap hari Sabtu jam 11.00 sampai 13.00 bersama Mas Nanang (Wartawan Sindo).
Mbak sekar mengatakan kalau di perpustakaan yang dikelolanya anak kecil bebas bermain, tidur, bahkan teriak-teriak di perpustakaan.
“Perpustakaan tempat kita have fun. Dimana kita bisa merasa sangat nyaman berada di kumpulan berbagai macam ilmu pengetahuan. Awalnya anak-anak yang bermain di Perpustakaan tak suka dengan buku. Tapi, kalau lama-lama berada di tumpukan berbagai macam buku pasti mereka akan tertarik dan mulai membacanya. Tak hanya anak-anak, semua orang juga akan merasakan hal yang sama ketika berada di perpustakaan.”
Pernyataan dari Mbak Sekar semakin menarik perhatianku. Sungguh pemikiran yang sangat aku sukai. Sangat jauh dari pemikiran Mama. Mama sama sekali tak menyukai jika aku membaca buku. Hanya buku pelajaran yang diperbolehkan untuk ku baca.
Kalau perpustakaan bising. Apakah kita bisa konsen dengan bacaan di depan kita? Itu yang jadi ganjalan. Ketika aku dirumah baca, tak pernah aku bisa konsen membaca buku. Aku lebih suka berdiskusi bersama teman-teman yang ada di rumah baca. Buku yang sepertinya menarik aku bawa pulang dan ku baca dirumah.

Tempat Kejadian : Rumah baca, Jl. Munginsidi Gg.01 Kampungbaru (Selatan Istana FM), Sukorejo Bojonegoro.  
Waktu Kejadian : Jum’at, 4 Mei 2012 Pukul 20.00 – 21.30 WIB

No comments: