Saturday, May 5, 2012

Pembukaan Workshop Menulis Features Dan Fiksi


Pembukaan workshop menulis diadakan di Rumah Baca Jl. Munginsidi Kampung Baru Gg. 01 Ds. Sukorejo Kab. Bojonegoro. Kata-kata pembukaan disampaikan oleh Mas Awe. Workshop Menulis features dan fiksi kali ini membahas tentang menulis features oleh Mas Nanang Fachrudin, seorang wartawan sindo dan sekaligus salah satu pendiri Rumah Baca Bojonegoro.
Dari kecil kita sudah diajari untuk membaca dan menulis atau biasanya disingkat tulmenul. Tahun 1700, penduduk Negara Jepang telah terbebas dari buta huruf. Sedangkan di Indonesia sampai sekarang masih banyak sekali orang yang belum bisa baca tulis. Meskipun dari TK anak-anak sudah banyak yang bisa membaca dan menulis tapi ternyata di Indonesia ini masih banyak yang buta huruf.
Kegiatan membaca tak bisa dijauhkan dari buku. Buku adalah kumpulan kertas atau bahan lainnya yang dijilid menjadi satu pada salah satu ujungnya dan berisi tulisan atau gambar. Dengan berkembangnya teknologi, sekarang telah hadir e-book sebagai pengganti buku cetak. Namun, buku dari kumpulan kertas masih menjadi favorit banyak orang. Buku juga bisa jadi barang romantis, bisa untuk kado pacar atau istri saat ulangtahun.
Pertanyaan dari Munir “Apa perbedaan dari opini, berita, feature, dsb?”
Jawaban yang disampaikan oleh Mas Nanang adalah sebagai berikut,
Berita dibagi menjadi 2 macam, hardnews dan feature. Berita merupakan produk jurnalistik yang ditulis berdasarkan fakta yang ada, tanpa membubuhkan opini atau pendapat dari wartawan. Ketika menulis berita, seorang wartawan harus bisa menyampaikan realitas yang ada. Sebuah berita harus ada narasumber untuk memperkuat sebuah tulisan. Bahkan seorang wartawan harus bisa melindungi narasumber. Dan itu sudah di atur di Undang Undang.
Opini/Artikel berdifat subjektif, dan bebas. Jika ingin menulis untuk media massa, opini/artikel harus memperhatikan tata bahasa. Opini bersifat lebih ilmiah dibandingkan dengan Essay, lebih memperhatikan tata bahasa, dan ditujang oleh data-data.
Essay adalah tulisan dari pemikiran manusia, tetapi tetap santai. Seperti tulisan yang ditulis di Blognya Mas Nanang terdapat tulisan Essay, yang judulnya Tuhan Saya Izin Korupsi, Lampu Merah Cap Indonesia.
Tidak hanya kopi saja yang mempunyai rasa. Sebuah tulisan mempunyai rasa yang berbeda-beda. Tergantung pada selera dan kesukaan masing-masing.    

Frank Marknis filosof berkebangsaan Jerman mendirikan STF (Sekolah Tinggi Filsafat) mengatakan : Ketika mencari sebuah berita, media yang digunakan tak harus netral, dan harus berpihak.
Seorang penulis yang baik adalah penulis yang juga bisa menjadi pembaca yang baik. Menulis bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk orang lain. Ketika kita menulis, bayangkan kalau kita juga menjadi pembaca tulisan kita sendiri. Tulisan yang tidak mudah dipahami tak akan disukai pembaca.
Kegiatan menulis tak pernah lepas dari kegiatan membaca. Membaca seperti sebuah nutrisi vitamin ketika sedang menulis. Seorang penulis pasti suka membaca, meskipun yang suka membaca jarang yang suka menulis.
Ketika seseorang sudah mulai menikmati kegiatan menulis, maka dia akan merasa ketagihan. Setiap kejadian yang dia alami pasti selalu ingin di tulis. Menulis adalah kegiatan yang menyenangkan. Orang yang pintar, cerdas, dan memiliki IQ tinggi tapi tak pernah menulis, dia hanya akan ditelan jaman tanpa meninggalkan bekas.
Sering dijumpai di rumah-rumah penduduk sebuah televisi bertengger di meja. Tapi sangat jarang sekali buku-buku dipajang diruang tamu dalam suatu rumah. Membaca kadang-kadang dianggap sebagai hal yang membosankan. Padahal banyak sekali manfaat membaca. Ada beberapa tips dari Mas Nanang untuk menumbuhkan minat membaca :
1.      Mencari tujuan atau alasan untuk membaca.
2.      Mengandaikan kalau buku adalah sesuatu yang menyenangkan. 

Semua orang punya kesukaan buku yang berbeda-beda. Dan tak pernah bisa dipaksakan orang lain. Karena selera orang itu tak sama satu sama lain. Jadi, pilih saja buku yang kira-kira cocok dan menarik untuk kamu.
3.      Membangun Komunitas Membaca
Bersama orang-orang yang suka membaca akan meningkatkan minat baca kita pada suatu buku. Ketika kamu berada di suatu komunitas dan kamu sama sekali tak tahu apa yang sedang dibicarakan. Pasti kamu akan merasa bosan, bahkan minder dengan teman-temanmu yang lain. Mau tidak mau, kamu pasti akan ikut untuk membaca dan membaca.
4.      Memaksakan Diri Membaca
Seperti halnya menulis, membaca juga harus dipaksa. Kadang-kadang perasaan malas selalu melanda badan. Namun, kita harus memaksakan diri untuk memulai sesuatu khususnya membaca. Karena dengan memulai untuk membaca, kita akan menikmati betapa asyiknya membaca.
Semua tulisan harus bersifat persuasif, bisa mempengaruhi pembaca untuk tertarik membaca tulisan kita. Menulis adalah media komunikasi yang dilakukan tanpa bertatap muka tapi bisa menyampaikan seluruh isi hati dan pikiran. 


Aylla Bergaya


No comments: